Bukan benci sih cuma gak suka aja liat anak manja, malas, apalagi bersikap bossy sama orang lain bahkan orang tua. Mungkin karena saya terbiasa menjalani hidup yang keras sejak kecil, mencari uang, menyelesaikan masalah, dan melakukan apapun sendiri, jadi aneh aja kalau liat anak manja yang tak bertanggung jawab, tidak disiplin pada dirinya sendiri, jorok dan tidak peka dengan lingkungan disekitarnya.
Tak selamanya orang tua ada, tak selamanya orang-orang sekitar akan mengerti pada sifat manja kita, tak selamanya hidup enak. Bukannya sok suci tapi saya lebih baik berjalan kaki sendiri seribu kilo meter walaupun jarak itu bisa ditempuh hanya seratus meter tetapi itu merepotkan orang lain.
Hidup malas memang menyenangkan hidup santai memang mengasyikan, tapi yang jadi pertanyaan mau sampai kapan kita semena-mena terhadap diri sendiri, menyepelekan waktu dan merepotkan orang-orang diskeliling hanya karna sifat malas dan manja kamu. Setiap orang punya kepentingan, kesibukan dan prinsip sendiri. Masa iya mereka harus terus mengikuti dan melayani sifat malas dan manja kalian, betapa kasian orang yang direpotkan mereka rugi waktu, tenaga dan fikiran hanya demi meladeni kamu.
Tolong fikirkan lagi dan tolong sebutkan 1 saja keuntungan dari sifat malas dan manja kamu. Tidak ada bukan?. Ngomong gampang prakteknya susah, iya berat memang merubah kebiasaan yang sudah tertanam selama bertahun-tahun memang berat. Tapi bukankah lama-lama batu karang pun bisa berlubang karena deburan ombak. Kuncinya 1, yaitu KONSISTEN!, ya konsisten dengan niat mau berubah, lakukan berulang2, pasang tulisan besar di dinding kamar “Malas saja terus jika ingin masa depanmu suram!!”
Gue bukan anti sosial tapi gue lebih bisa menikmati kesendirian dengan nyaman. Ya ketika sendiri, gue bisa melakukan dan berfikir apapun tanpa ada gangguan dari orang. Gue lebih suka melakukan sesuatu sendirian yaa selama pekerjaan itu bisa gue lakukan sendiri sih buat apa merepotkan orang lain. Sejak lulus SMA gue udah terbiasa mandiri hidup jauh dari orang tua dan itu gak membuat gue repot atau kaget, mungkin didalam diri gue udah tertanam jiwa mandiri, mungkin. Memang sejak remaja gue lebih senang menghabiskan waktu dengan mengurung diri dikamar setelah pulang sekolah, entah itu main game, dengerin musik, nulis, ngegambar atau apapun yang bikin gue seneng dan gue menikmati itu. Sampe nyokap pernah bilang sama gue “ni anak ngerem mulu dikamar kerjaannya, maen ke keluar kemana gitu,” gue cuma nyengir. Didalam suasana sendiri, gue bisa memunculkan inspirasi teraneh sekalipun. namun senyaman apapun kesendirian itu gue juga butuh teman ketika gue bosan dengan nyamannya kesendirian, memang gak banyak teman yang gue punya tapi itu cukup. buat apa banyak teman kalo cuma bikin repot. Satu orang saja cukup jika dia bisa memahami kekurangan dan kelebihan gue, mengerti dan menghargai gue.
Entah sejak kapan gue suka baca, yang jelas bukan sejak pertama gue baru bisa baca itu terlalu muda. Mungkin sejak gue merasa bisa menghayati isi buku yang gue baca. Gue suka membaca apa saja yang gue temukan, mulai dari majalah langganan gue, sampai komik dan novel kaka gue yang ditemukan tanpa sengaja, waktu masih kecil gue punya kebiasaan, tidak tahu ini kebiasaan baik atau jelek yang jelas gue harus membawa buku bacaan kalau sedang buang air besar, terserah apa bacaannya yang penting bisa dibaca, menurut gue itu pemanfaatan waktu yang maksimal untuk bisa membacaa gue bisa mendapat tambahan waktu menghafal ketika mau ujian yang mungkin orang lain tidak lakukan haha konyol memang. Pernah gue sampai hafal isi satu majalah karena yang gue baca majalah itu-itu saja sampai lecek.
Orang yang sedang membaca terlihat keren dimata gue, setidaknya seseorang akan jadi serius ketika sedang membaca, butuh konsentrasi untuk bisa memahami isi bacaannya. Sekalipun yang dibaca adalah tulisan komedi, bukankah butuh niat yang serius untuk mulai membaca kemudian dia tertawa setelah paham isinya. Membaca itu kegiatan orang-orang keren, dari keren bisa sukses lalu menjadi hebat. Karena orang-orang hebat terlahir karena mereka suka membaca. Sebuah kalimat dalam sebuah buku bisa sangat mempengaruhi bahkan mengubah hidup seseorang, dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa, yang sedih menjadi senang, yang senang menjadi sedih, yang senang tambah senang, yang sedih tambah sedih, bahkan yang tidak pernah merasa menjadi bisa merasakan.
Kita tidak perlu pergi ke Paris untuk tahu bagaimana itu menara eiffel, karena sebuah buku bisa mendeskripsikan itu semua bahkan dengan membaca, bisa jauh lebih tau daripada orang yang hanya sekedar berkunjung kesana. Perbedaan orang yang suka dan tidak suka membaca itu akan terlihat ketika kedua orang tersebut terlibat dalam sebuah perdebatan, bisa dikatakan adu argumentasi. Seorang yang suka membaca akan lantang mengungkapkan argumentasinya karena ia tahu dari mana sumber atau literatur dari argumentasinya tersebut. Sedangkan yang kurang membaca ia akan lebih sering menggunakan kata “mungkin“ yang sama sekali tidak bisa memperkuat argumentasinya. Dengan membaca gue merasa bisa merasakan dunia-dunia orang lain selain dunia gue sendiri, mengungkap kisah-kisah hebat yang gue tidak pernah tahu, menghargai bahwa ada kehidupan lain yang perlu gue hayati untuk dijadikan pembelajaran diri, ada segudang ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gue.
Gue selalu penasaran pada isi buku hanya dengan membaca judul sebuah buku tersebut. Masih adakah yang berkata membaca buku itu buang-buang waktu? Menurut gue itu pemikiran orang-orang yang parah. Allah SWT pun menurunkan Al-Qur’an untuk dibaca bukan? Maka dari itu membaca tidak akan pernah membuat kita rugi. Selamat membaca.
Barusan pas gue mau masuk kewarnet ini, selama gue parkirin motor, gue gak sengaja denger percakapan sekelompok anak sekolah mereka semua perempuan yang kira-kira masih SD kelas 5-6 lah. Begini kira-kira,
Si A : Eh jangan kerumah saya sih rumah saya mah banyak anak kecil lo berisik, jelek lagi, bagusan rumah kamu (ke Si B).
Si B : Rumah saya juga jelek tau, bagusan rumah si D.
Si C : Masa sih? eh tapi ita tau, saya pernah kerumah si D rumah nya bagus lo, orang kaya tau saya juga rumahnya jelek berarti orang miskin.
Si A : Iya ya saya juga orang miskin, ….(selang beberapa detik). Eh tapi kata saya mah semua orang yang punya rumah itu kaya tau, kalo miskin mah gak bakal punya rumah!.
Si B & C : Iya yah…
$@#@%$%#%$@%^#^%$&…???!!!?
(Selanjutnya gue gak tau lagi apa yang mereka omongin, karena gue masuk kedalam warnet itu. Bisa jadi nama binatang piaraan sampe merk Bedcover Orangtua mereka. mungkin. gue cuma ketawa dalam hati. :D)
Ngedenger percakapan diatas gue jadi inget SD, gue juga pernah mengalami masa-masa kegelapan tersebut (halah), kenapa gue sebut masa gelap? ya karena mereka tidak punya pencerahan buat menyelesaikan perkara rumah jelek tersebut.
Mereka terjebak didalam paradigma itu, emang kalo rumah nya jelek gak boleh bawa temen ke rumah? kasian dong sama anak yang emang beneran rumahnya jelek, ngontrak pula, minder mampus dia. Kenapa harus rumah jadi ukuran strandar bawa temen kerumah? . Tapi gue salut sama mereka, meskipun masih pada SD mereka udah bisa punya rumah sendiri meski jelek (karena mereka bilang “rumah saya”, bukan “rumah orangtua saya”) hahahahaaa.
Note : Pasti bingung siapa itu si D? sama gue juga gak ngerti. hihi
Siang yang bolong.